Bukan dr. Andreas rasanya kalau tidak memberikan nama unik dan sedikit nyeleneh sebagai judul bukunya. Setelah sebelumnya kita diajak merenung lewat kisah seorang pria yang melalui duka dengan mencuci piring, kini kita disuguhkan cerita tentang seorang wanita yang ingin menjadi pohon semangka di kehidupan selanjutnya.
Alasannya terdengar klise, tapi sangat bisa diterima dan menampar realita: mengapa harus lelah tumbuh tinggi seperti bunga matahari, jika menjadi pohon semangka yang merambat di tanah saja sudah bisa memberikan buah yang manis bagi banyak orang?
Tepat hari ini, aku baru saja selesai membaca buku tersebut. Awalnya, ada keraguan. I thought this book would not resonate with me, mengingat setting utamanya adalah diskusi ruang praktik antara pasien dan psikiaternya. Namun, asumsi itu keliru. Percakapan di dalamnya ternyata memuat refleksi yang sangat dalam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ada banyak dari bagian buku ini yang bisa di kutip tapi biar ku bagikan sedikit dari banyaknya point tersebut
1. Pesan dari Masa Depan
Buku ini dibuka dengan pendekatan deskriptif yang brilian—meminta kita membayangkan pesan apa yang kira-kira akan disampaikan oleh diri kita di masa depan kepada diri kita yang sekarang.
Hal sederhana ini ternyata memiliki makna yang dalam. Latihan mental ini memaksa kita untuk menjadi lebih dewasa dalam menatap goals kita. Alih-alih tenggelam dalam kecemasan hari ini, kita didorong untuk fokus pada target jangka panjang, sehingga saat kita menoleh ke belakang nanti, tidak ada penyesalan yang tersisa.
2. Belajar Menerima Peran Sebagai “Orang Jahat”
Ini salah satu bagian paling jujur dari buku pengembangan diri yang pernah kubaca.
Buku ini menyatakan sesuatu yang tidak nyaman:
Manusia butuh seseorang untuk disalahkan agar hatinya lega.
Artinya, cepat atau lambat, kita akan menjadi tokoh antagonis dalam cerita seseorang.
Dan itu normal.
Kita tidak bisa hidup sambil menjaga semua orang tetap nyaman.
Karena kadang pilihan yang sehat untuk diri kita terasa menyakitkan untuk orang lain.
Menolak.
Menjauh.
Tidak membalas.
Berubah.
Sering kali bukan kita jahat.
Hanya saja kita berhenti berperan sesuai harapan mereka.
Buku ini seperti memberi izin:
Kamu tidak harus merusak dirimu sendiri hanya agar tetap dianggap baik.
3. Memformat Ulang Identitas
Bagaimana jika selama ini kita tumbuh dengan narasi yang salah? Mungkin kita merasa sebagai beban, merasa selalu gagal, atau merasa buruk karena label dari lingkungan dan masa lalu.
Lucunya, label itu jarang kita pilih sendiri.
Tapi kita hidup seolah itu adalah fakta.
Buku ini memakai analogi komputer:
hapus file sampah → kosongkan recycle bin → tulis ulang.
Setelah narasi lama dihapus, pena itu kembali ke tangan kita.
Masalahnya bukan hidup kita buruk.
Sering kali hanya ceritanya yang salah ditulis.
4. Validasi untuk Si “Kurang Bersyukur”
Banyak buku motivasi di luar sana yang “memaksa” pembacanya untuk terus-menerus memperbanyak rasa syukur (toxic positivity). Sebaliknya, buku ini sejak awal justru didedikasikan secara spesifik untuk orang-orang yang sering dituduh “kurang bersyukur”.
Buku ini merangkul mereka yang kerap menenangkan diri dengan duduk sendirian di kursi minimarket pada penghujung hari yang melelahkan. Ini adalah bentuk validasi yang melegakan: bahwa merasa lelah, merasa kecewa, dan memiliki hidup yang jauh dari kata ideal itu adalah hal yang sangat wajar.
5. Menormalisasi Akhir yang Tidak Sempurna
Bagian penutup adalah favoritku.
Kita sering mengejar closure.
Ingin semuanya jelas, rapi, dan selesai dengan baik.
Tapi hidup jarang begitu.
Ada hubungan yang berhenti tanpa penjelasan.
Ada mimpi yang berubah arah.
Ada versi diri yang tidak sempat diwujudkan.
Dan ternyata… tidak apa-apa.
Tidak semua cerita butuh akhir yang indah.
Beberapa hanya perlu berhenti.
Perfection bukan tujuan akhir.
Kadang hanya cara kita menunda menerima kenyataan.
KESIMPULAN
Membaca buku ini seperti sedang duduk berbincang dengan seorang teman yang tidak menghakimi. Jika kamu sedang merasa lelah dengan tuntutan untuk selalu menjadi sempurna, buku ini adalah validasi bahwa menjadi “pohon semangka” yang sederhana pun sudah lebih dari cukup.
Pada akhirnya aku mengerti kenapa judulnya aneh.
Menjadi bunga matahari berarti terlihat baik. Menjadi pohon semangka berarti memberi manfaat — tanpa harus terlihat hebat.
Mungkin dewasa bukan tentang menjadi versi terbaik. Tapi menjadi versi yang cukup jujur.
Tidak harus tinggi. Tidak harus sempurna. Tidak harus disukai semua orang.
Cukup manis bagi mereka yang memang perlu.
Kalau kamu ada kesempatan usahakan untuk baca buku ini!