What I Learned from Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Kehilangan bukanlah hal yang sederhana.
Ia tidak selalu datang dalam bentuk kematian kadang ia hadir sebagai jarak, sebagai perubahan, sebagai seseorang yang dulu begitu dekat lalu perlahan berubah menjadi asing. Dan perubahan itu, entah bagaimana, mampu mengguncang cara kita memandang hidup dan diri sendiri.

Belakangan ini, aku pun merasakannya.

Di tengah hari-hari yang terasa sunyi, saat berjalan sendirian dan mencoba berdamai dengan pikiran, aku menemukan sebuah buku dengan judul yang sederhana namun mengusik:
Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya dr. Andreas Kurniawan.

Judulnya terdengar ringan, hampir remeh. Tapi justru di sanalah kekuatannya.

Menikmati Kesedihan, Bukan Menyuruhnya Pergi

Ada satu bagian dalam buku ini yang sangat membekas bagiku. Sebuah dialog batin yang terasa jujur dan manusiawi:

“Dunia mengatakan padaku: udah pasrah aja. Ikhlaskan, nanti diganti dengan yang lebih baik.
Aku menjawab: Oh tidak, terima kasih. Aku belum mau pasrah, aku belum mau ikhlas, aku tidak mau diganti dengan yang lain. Aku mau mencuci piring aja.”

Kalimat ini seperti tamparan lembut.

Buku ini tidak mengajak kita untuk “cepat sembuh”. Tidak memaksa kita berpikir rasional ketika hati belum siap. Ia justru memberi ruang ruang untuk tidak baik-baik saja.

Di sini aku belajar bahwa ikhlas itu bukan keputusan instan, melainkan proses. Kesedihan tidak selalu harus disingkirkan. Kadang ia perlu diterima, dirasakan, bahkan dinikmati kepahitannya. Karena memang itulah waktunya.

Biarkan duka bekerja. Biarkan ia mengubah kita.

Duka yang Dibiarkan Bernapas

Bagiku, buku ini adalah salah satu sedikit buku yang tidak terburu-buru menyelamatkan pembacanya. Ia tidak berkata, “Ayo bangkit sekarang juga.”
Ia berkata, “Tidak apa-apa kalau hari ini kamu hanya bisa mencuci piring.”

Dari bab mencuci piring, hidup yang “katanya harus berjalan”, sampai tutorial menyusun puzzle semuanya terasa seperti metafora kecil tentang bagaimana hidup tetap berlangsung, bahkan ketika hati kita tertinggal di masa lalu.

Bukan dengan lompatan besar. Tapi dengan hal-hal sederhana.

Mencukupkan Ikatan

Ada satu pelajaran lain yang terasa dewasa dan menenangkan: mencukupkan ikatan.
Tidak semua hubungan harus disambung kembali. Tidak semua kehilangan perlu diperbaiki. Ada kalanya cukup—cukup pernah ada, cukup pernah berarti, cukup pernah mengajarkan.

Dan itu pun sebuah bentuk penerimaan.

Bangkit adalah Pilihan

Di bagian akhir, sebuah kalimat dalam pidato penulis menutup perjalanan ini dengan kuat:

“Falling down is an accident. Staying down is a choice.”

Kalimat ini tidak meniadakan duka. Ia justru menghormatinya. Kita boleh jatuh, boleh hancur, boleh berlama-lama di bawah. Tapi suatu hari, ketika waktunya tiba, bangkit menjadi pilihan kita sendiri.

Buku ini mengajarkanku satu hal penting:
setiap orang yang datang dalam hidup, pada akhirnya, selalu membawa pelajaran.
Entah ia tinggal lama, atau pergi lebih cepat dari yang kita harapkan.

Dan mungkin, sebelum kita benar-benar siap melanjutkan hidup, yang perlu kita lakukan hanyalah… mencuci piring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *